RI baru genjot listrik surya China sudah kuasai dunia lebih dulu, Bagaimana bisa terjadi dan apa dampaknya bagi Indonesia?
China sudah jauh melangkah dan bahkan mendominasi pasar global panel surya serta teknologi pendukungnya. Kondisi ini membuat posisi Indonesia terlihat masih berada di tahap awal dibandingkan kekuatan industri yang sudah lebih dulu berkembang pesat. Perbedaan kecepatan ini menimbulkan pertanyaan besar terkait strategi dan kesiapan Indonesia dalam mengejar ketertinggalan di sektor energi masa depan. Simak informasi lengkapnya hanya di Wawasan Ekonomi dan Bisnis.
RI Mulai Mengejar Energi Surya
Ambisi Indonesia dalam mengembangkan listrik tenaga surya kini semakin terlihat jelas di tengah dorongan transisi energi global. Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas energi bersih sebagai bagian dari strategi jangka panjang menuju kemandirian energi nasional.
Di sisi lain, China sudah lebih dulu melangkah jauh dan berhasil menjadi pemain dominan dalam industri panel surya dunia. Posisi ini membuat China disebut sebagai salah satu “raja” energi surya global karena penguasaan rantai produksi yang sangat kuat.
Perbedaan skala dan kecepatan pengembangan ini menjadi sorotan penting di kawasan Asia. Indonesia dinilai masih berada pada tahap awal, sementara China sudah memasuki fase ekspansi global yang agresif. Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan besar dalam peta persaingan energi terbarukan dunia, terutama pada sektor yang kini menjadi kunci masa depan energi bersih.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Ambisi Indonesia Di Tengah Transisi Energi
Pemerintah Indonesia terus mendorong pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai bagian dari transisi energi nasional. Langkah ini dianggap penting untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang masih dominan. Target besar juga mulai dipersiapkan melalui berbagai proyek energi terbarukan di beberapa wilayah. Namun tantangan infrastruktur dan investasi masih menjadi faktor utama yang perlu diselesaikan.
Selain itu, kebutuhan teknologi dan komponen masih banyak bergantung pada impor, terutama dari negara yang sudah lebih maju dalam industri ini. Hal ini membuat percepatan pengembangan menjadi lebih kompleks. Meski demikian, arah kebijakan menunjukkan bahwa Indonesia serius mengejar ketertinggalan dalam sektor energi surya.
Baca Juga: Benarkah Freeport Mampu? Targetkan Produksi Tembaga 200 Ribu Ton Per Hari Di 2027
China Menguasai Rantai Industri Energi Surya
China saat ini memegang peranan besar dalam rantai pasok global energi surya, mulai dari produksi panel hingga teknologi pendukungnya. Dominasi ini membuat China sulit disaingi dalam jangka pendek. Keunggulan tersebut dibangun melalui investasi besar dalam riset, manufaktur, dan skala produksi yang masif. Hal ini memungkinkan China menekan biaya produksi secara signifikan.
Selain itu, ekspansi global perusahaan energi surya China juga memperkuat posisinya di pasar internasional. Banyak negara bergantung pada produk dan teknologi dari China. Kondisi ini menjadikan China sebagai pusat utama industri energi surya dunia dengan pengaruh yang sangat besar terhadap harga dan pasokan global.
Tantangan Indonesia Mengejar Ketertinggalan
Indonesia menghadapi sejumlah tantangan dalam mempercepat pengembangan energi surya, terutama terkait biaya investasi dan kesiapan teknologi. Hal ini menjadi hambatan utama dalam ekspansi skala besar. Selain itu, regulasi dan infrastruktur energi masih perlu disesuaikan agar lebih mendukung pengembangan energi terbarukan. Proses ini membutuhkan waktu dan konsistensi kebijakan.
Keterbatasan industri lokal dalam memproduksi komponen panel surya juga menjadi tantangan tersendiri. Ketergantungan impor membuat biaya proyek menjadi lebih tinggi. Namun pemerintah terus berupaya memperkuat ekosistem energi hijau melalui berbagai program dan kerja sama internasional.
Peta Persaingan Energi Surya Dunia
Persaingan energi surya global kini semakin ketat seiring meningkatnya kebutuhan energi bersih di berbagai negara. Energi ini menjadi salah satu pilar utama transisi dari energi fosil. China saat ini berada di posisi terdepan, sementara negara lain termasuk Indonesia masih berusaha mempercepat pengembangan kapasitasnya. Perbedaan ini menciptakan ketimpangan dalam industri global.
Meski begitu, peluang tetap terbuka bagi negara berkembang untuk mengejar melalui investasi dan transfer teknologi. Kerja sama internasional menjadi salah satu kunci utama. Ke depan, peta energi dunia diprediksi akan semakin kompetitif seiring meningkatnya permintaan energi bersih.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari www.cnbcindonesia.com
- Gambar Kedua dari www.cnbcindonesia.com