Di tengah dinamika pasar keuangan global yang masih bergejolak, rupiah kembali kehilangan tenaga secara signifikan.
Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada akhir pekan perdagangan. Mata uang Garuda melemah terhadap dolar Amerika Serikat dan bertahan di level Rp17.104 per dolar AS, mencerminkan masih kuatnya tekanan di pasar keuangan global maupun domestik. Simak selengkapnya hanya di Wawasan Ekonomi dan Bisnis.
Rupiah Tertekan Di Level Rp17.104 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Jumat (10/4/2026) sore. Mata uang Garuda tercatat melemah ke level Rp17.104 per dolar Amerika Serikat, turun sekitar 14 poin atau 0,08 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Berdasarkan kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah juga menunjukkan pelemahan di level Rp17.112 per dolar AS. Data ini memperkuat indikasi bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup konsisten dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Meski pelemahannya tergolong tipis, kondisi ini tetap menjadi perhatian pelaku pasar dan investor. Pergerakan rupiah yang belum stabil mencerminkan adanya ketidakpastian yang masih membayangi pasar keuangan domestik.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Tertekan
Tekanan terhadap rupiah sejalan dengan pelemahan yang terjadi pada sebagian besar mata uang di kawasan Asia. Yen Jepang, baht Thailand, yuan China, peso Filipina, hingga won Korea Selatan semuanya tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya bersumber dari faktor domestik Indonesia, tetapi juga dipengaruhi sentimen global yang sedang berlangsung. Investor global cenderung mengalihkan aset ke dolar AS sebagai instrumen yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi.
Selain mata uang Asia, sejumlah mata uang utama negara maju juga ikut melemah. Euro Eropa, poundsterling Inggris, hingga dolar Australia menunjukkan tren penurunan meskipun beberapa di antaranya masih bergerak dalam rentang terbatas.
Baca Juga: Rahasia Terbongkar! Ambisi China Kuasai Chip Taiwan Bikin Pasar Global Bergetar
Sentimen Domestik Masih Menjadi Beban Rupiah
Menurut analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor internal yang berasal dari kondisi fundamental ekonomi domestik. Investor disebut masih merespons negatif sejumlah data ekonomi Indonesia yang dinilai belum sepenuhnya kuat dan konsisten dalam menunjukkan pemulihan yang berkelanjutan.
Beberapa indikator yang menjadi perhatian antara lain cadangan devisa, neraca perdagangan, serta potensi pelebaran defisit anggaran. Kondisi ini dianggap dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional dalam jangka menengah.
Selain itu, penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi turut memperburuk sentimen. Data lain seperti melemahnya kepercayaan konsumen dan penurunan penjualan kendaraan bermotor juga memperkuat kekhawatiran bahwa daya beli masyarakat masih berada di bawah tekanan.
Dampak Global Dan Arah Pergerakan Rupiah
Selain faktor domestik, tekanan global juga memberikan kontribusi besar terhadap pelemahan rupiah. Ketidakpastian pasar keuangan internasional membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Penguatan dolar Amerika Serikat sebagai aset safe haven menjadi faktor utama yang menekan banyak mata uang dunia. Ketika ketegangan global meningkat, investor cenderung memilih dolar AS sehingga mata uang lain mengalami tekanan tambahan.
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Kebijakan moneter Bank Indonesia, stabilitas indikator ekonomi nasional, serta dinamika geopolitik dunia akan menjadi faktor penentu arah rupiah dalam jangka pendek hingga menengah.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari news.detik.com